Al Quran Surat An Nisa ayat 171

Al Quran Surat An Nisa ayat 171

يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا \

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

Sabtu, 29 Desember 2012

Umur Aisyah Ketika Menikah dengan Rasulullah SAW

Umur Aisyah Ketika Menikah dengan Rasulullah SAW
Meluruskan Fitnah Kubro kaum Kafir Tentang Pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Aisyah Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya,”Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan,” Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya,” Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

Dalil dan Logika, Menolak Nikah Dini Aisyah Ra

Kita selama ini memperoleh informasi bahwa Rasulullah SAW telah melamar Aisyah RA ketika berumur 6 tahun dan berumah tangga ketika berusia 9 tahun.

apa benar informasi itu?



Aisyah RA menikah di usia 19 tahun

Nah, untuk menjawab pertanyaan benar atau tidak masalah ini, melalui studi kritis terhadap hadits, Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi menemukan informasi baru. Dalam bukunya Umur Aesyah, ternyata ada berita baru yang lebih masuk akal dan bisa diterima logika. Rasulullah SAW berumah tangga dengan Aisyah RA saat Aisyah RA berusia 19 tahun.
Jadi, bagaimana cerita runtutnya?!
Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi adalah seorang ahli hadits dari India. Ia lahir tahun 1924 M, putera ulama hadits terkenal Mufti Isyfaq Rahman. Ayahnya ini pernah jadi mufti besar Bhopal India.

Jumat, 28 Desember 2012

Menjawab Tuduhan : Semua Masuk Neraka

Pertanyaan : 

Apakah Islam mengajarkan bahwa kelak di akherat semua manusia akan masuk neraka..? setelah itu baru akan diselamatkan Allah agar tidak disiksa disana..? berdasarkan ayat ini : 

Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam 70-72) 

Jawaban : 

Menjawab Hujatan Ayat ayat perang di Al Qur’an

Ayat Ayat Perang di Al Qur’an sering dijadikan Alat pembenar para Misionaris dan Para penghujat untuk Menghujat islam, Allah Swt dan nabi Muhammad Saw, dan ejekan mereka Muslim maupun Muslimah. Bahkan diantara mereka memberikan label terhadap ayat ayat tersebut dengan label AYAT AYAT JAHAT di Al Qur’an.
Untuk menjawab hujatan tersebut maka cara cara pendekatan yang mengutamakan Obyektifitas,memperhatikan Konteks ayat tersebut dan juga perbandingan dengan Ayat ayat yang terdapat pada Kitab suci mereka serta perbandingan dengan melihat fakta fakta sejarah.
I.Berdasarkan Fakta sejarah tak terbantahkan bahwa masa Kenabian Muhammad saw mengalami 2 Fase yaitu fase MAKKAH dan MADINAH,dan kalau kita mencermati lebih dalam lagim kedua Fase tersebut juga secara Posisi sangat berbeda,yaitu fase pertama pada masa Kenabian sebagai masyarakat sipil Biasa (periode Makkah) dan Fase kedua setelah terbentuknya masyarakat Berdaulat (NEGARA).
Dan Nabi lain yang mengalami 2 fase Kenabian ini adalah Musa As,yaitu Fase saat di Mesir sebagai masyarakat sipil Biasa dan fase di tanah perjanjian terbentuknya masyarakat Berdaulat (NEGARA)
Dan ayat ayat Al Qur’an yang berisi Perintah perang semua diturunkan pada MASA KEDUA,yaitu di Madinah setelah terbentuknya masyarakat Berdaulat (NEGARA).
Kalau perintah perang pada saat masyarakat tersebut sudah berdaulat merupakan sebuah tindakan yang bertentangan seluruh hati Nurani manusia ,maka apakah mereka tidak melihat
Tentang FAKTA tak terbantahkan ,bahwa setiap Negara negara yang berdaulat pasti memiliki ‘angkatan perang/bersenjata’,yang mereka dipersiapkan untuk sewaktu waktu bisa berperang menghadapi Musuh.
Atau Bukti tak terbantahkan bahwa setiap negara memiliki Angkatan perang/ bersenjata ada bukti tak terbantahkan bahwa sesungguhnya hal yang mereka persoalkan tidak bertentangan dengan hati nurani Manusia tetapi justru sesuai hati Nurani manusia.
II. sekarang kita perhatikan ayat ayat yang sering mereka persoalkan , untuk menjawab secara ringkas akan saya ringkas (kelompokan) ayat-ayat yang disampaikannya

Tuduhan Duladi soal Permusuhan, Terorisme dan Premanisme


Oleh : Surya Yaya
Duladi Samarinda menulis:

3) Secara terang-terangan membangkitkan permusuhan terhadap umat Yahudi dan Nasrani

QS 5:51
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
QS 98:1
Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
QS 98:6
”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.”
QS 8:55
Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.
--> Tanggapan Surya Yaya :

Tuduhan anda yang hanya bisa muter-muterin ayat diatas, juga sudah dijawab dan mencakup pada jawaban nomor 1 dan 2.

Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam, agama damai dan sempurna tidak pernah sedikitpun menumbuhkan rasa permusuhan atau mencari-cari musuh. Bacalah literatul Islam secara utuh, maka yang terbesik di benak anda adalah Islam adalah agama yang lembut.

Bantahan logis tentang umur Aisyah ketika menikah dengan Rasulullah..

Peristiwa ini selalu menjadi topik yang ‘hangat’ dalam perdebatan lintas agama, bahkan termasuk juga di kalangan internal umat Islam sendiri. Bedanya mungkin kalau dalam konteks debat lintas agama, tujuannya tidak lain untuk menyampaikan penghinaan dan hujatan kepada pribadi Rasulullah. Sekalipun hal ini sudah dijawab berulang-ulang oleh umat Islam, namun tetap saja dipermasalahkan oleh pihak non-Muslim. Jawaban yang paling sering kita temukan adalah dengan mengkaji dan menganalisa sanad dari hadits yang menginformasikan bahwa ketika menikah, Aisyah berusia 6 tahun dan hidup serumah (diartikan telah melakukan hubungan suami istri) pada umur 9 tahun. Secara keseluruhan terdapat beberapa hadits yang mencatat jelas soal umur Aisyah ini, termasuk dalam shahih Bukhari dan Muslim, artinya kedua ahli hadits ini ketika mengumpulkan hadits, menemukan cerita yang sama dari beberapa orang, lalu ketika ditelusuri jalur periwayatannya, mereka berkesimpulan bahwa orang-orang yang terlibat dalam ‘menurunkan’ kisah tersebut layak dipercaya. Makanya Bukhari dan Muslim mencatat hadits ini dengan kategori shahih. Masalahnya, sekalipun ketika imam Bukhari dan imam Muslim memperoleh banyak sumber yang menceritakan umur Aisyah tersebut, jalur periwayatannya ternyata mengerucut kepada 1 orang, yaitu : Hisyam, yang lahir tahun 61H (jadi tidak bertemu dengan Aisyah yang wafat tahun 57H). Hisyam sendiri mendapatkan cerita tersebut dari bapaknya : Urwah bin Zubair, salah seorang sahabat yang hidup di jaman Nabi Muhammad SAW, dia memperoleh kisah tersebut sebagaimana yang diceritakan Aisyah kepadanya. Jadi sekalipun imam Bukhari dan Muslim menemukan banyaknya orang yang menceritakan hadits ini, sumbernya adalah 1 orang, melalui Hisyam, sebagai satu-satunya orang yang memperoleh informasi dari bapaknya Urwah. Redaksi hadits tersebut menunjukkan Aisyah bercerita kepada Urwah ‘face to face’, tidak ada orang lain, lalu beberapa tahun kemudian Urwah juga menceritakan ‘face to face’ kepada anaknya, Hisyam, setelah itu barulah Hisyam menyampaikan informasi kepada banyak orang. 

Disini saja sudah muncul pertanyaan logis. Peristiwa perkawinan Rasulullah dengan Aisyah merupakan kejadian yang terbuka dan diketahui oleh masyarakat, sebagaimana layaknya semua pernikahan yang ada pada waktu itu. Artinya semua orang tentu mengetahui berapa umur Aisyah ketika menikah, namun tidak satupun orang-orang di Madinah menginformasikan soal Aisyah yang menikah dengan Nabi pada usia belia tersebut. Pertanyaan logis berikutnya, Hisyam selama 71 tahun tercatat tinggal lama di Madinah dan mempunyai banyak murid, termasuk ulama terkenal yang banyak menceritakan hadits, imam Malik dan imam Hanafi. Imam Malik misalnya menulis kitab ‘al-Muwaththa’ yang berisi kumpulan hadits yang beliau terima dan sudah diteliti keshahihannya, cerita tentang umur Aisyah tersebut tidak ada disana. Ketika ditelurusi semua perawinya, ternyata semuanya merupakan orang-orang yang tinggal di Irak, artinya Hisyam baru menceritakan kisah ini setelah berusia 71 tahun dan sudah pindah ke Irak, tempat Hisyam menghabiskan hari tuanya. Imam Malik sendiri berkomentar :“Hisyam layak dipercaya dalam semua perkara, kecuali setelah dia tinggal di Iraq“. Bagi anda yang tetap ngotot untuk membenarkan hadits tentang umur Aisyah ini tentu saja boleh mengatakan :”Bisa saja Hisyam ketika di Madinah tidak menceritakan kisah ini dengan berbagai alasan, lalu baru disampaikannya ketika sudah pindah ke Irak..”. Sekalipun pernyataan tersebut sudah lemah, namun kita terima saja dulu sebagai salah satu kemungkinan. 

Persoalan logis berikutnya muncul ketika kita mensingkronkan antara hadist ini dengan hadist-hadits lain terkait dengan umur Aisyah, juga tercatat dalam kitab yang sama, Bukhari dan Muslim. Pada kesempatan lain dikisahkan tentang umur Aisyah ketika turunnya surat al-Qamar (maksudnya pada peristiwa mukjizat Rasulullah membelah bulan), ketika terjadinya perang Badar dan Uhud, perbandingan umur Aisyah dengan putri-putri nabi, Fatimah dan Asma’, dll, maka disini juga terjadi ketidak-sesuaian. Ibarat saya menginformasikan :”Saya lahir pada bulan September 1964”, lalu memberikan informasi lain :”Ketika pemberontakan G30S PKI terjadi, saya lagi belajar di kelas 4 SD”. Pemberontakan tersebut terjadi tahun 1965, apakah mungkin anak umur 1 tahun duduk di kelas 4 SD..??. Maka kedua informasi tersebut tentu menjadi lemah, paling tidak salah-satunya tidak akurat. Namun mungkin anda masih ngotot dan bilang :”Bisa saja informasi yang lain tersebut yang salah karena tidak menyebut umur Asyah dengan jelas, tidak seperti hadits yang terang-terangan mencatat usia 6 dan 9 tahun..”. Untuk kali ini, kita terima lagi pernyataan tersebut sebagai salah satu kemungkinannya. 

Peristiwa pernikahan antara nabi Muhammad SAW dengan Aisyah terjadi pada masa awal hijrah, ketika umat Islam yang masih berjumlah sedikit dan lemah, mengungsi dari Makkah ke Madinah, bahkan tercatat akad nikahnya dilakukan di Makkah sebelum mengungsi, dan baru berkumpul dengan Rasulullah ketika sudah tinggal di Madinah. Pertanyaan logisnya adalah :”Apakah dalam masyarakat Arab waktu itu lumrah menikahkan anak perempuan mereka dalam usia 6 atau 9 tahun..?”. Tidak ada catatan kalau hal tersebut menjadi adat-istiadat mereka, dipastikan kalau itu yang terjadi maka ini menjadi suatu peristiwa yang luar-biasa yang akan banyak diperbincangkan orang. Para musuh-musuh Islam di Makkah pasti akan menjadikan pernikahan ini sebagai ’sasaran tembak’ untuk menyerang Islam yang masih lemah. Tindakan Rasulullah bisa dinilai sebagai sesuatu yang kontra-produktif terhadap syi’ar Islam, pada keadaan beliau bisa memilih wanita lain yang berumur layak untuk dinikahi dan tidak akan menimbulkan masalah. Sebagai perbandingan, ketika Aa Gym melakukan poligami beberapa tahun lalu, popularitasnya langsung menurun, jamaah pengajian langsung sepi, padahal beliau menjalankan sesuatu yang dibolehkan dalam syari’at, namun karena dalam masyarakat tertanam nilai-nilai yang menganggap poligami merupakan tindakan yang tidak tepat dan didasari nafsu, maka para ibu-ibu pengikut acara pengajiannya pada kabur, apalagi kalau seandainya Aa Gym melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma-norma agama. Tidak tercatat adanya serangan dari musuh-musuh Islam di Makkah terhadap pernikahan ini, juga tidak tercatat adanya ’eksodus’ para pengikut Rasulullah untuk kembali murtad, termasuk juga pada orang-orang di Madinah yang merupakan masyarakat yang baru menerima Islam. 

Anda mungkin bisa saja tetap ngotot dengan mengatakan :”Nabi Muhammad SAW telah menyihir para pengikutnya dengan mengatakan pernikahan tersebut merupakan perintah Tuhan, lalu membuat mereka takut untuk membantah. Tujuannya jelas karena ingin menyalurkan hasratnya yang pedofilia”. Pertanyaan logisnya adalah :”Kalau memang beliau memiliki kecenderungan pedofilia, lalu mengapa pada awalnya Rasulullah malah menikahi Siti Khadijah yang berumur lebih tua..??”. Anda mungkin berkelit :”Kecenderungan tersebut muncul setelah beliau menjadi nabi, ketika Khadijah sudah meninggal dunia..”. Kembali lagi muncul pertanyaan logis :”Setelah Khadijah wafat, Rasulullah melakukan poligami dengan 10 orang istri. Faktanya yang tercatat berumur 6 tahun hanyalah Aisyah, kalau memang mau mengikuti kecenderungan tersebut maka pastinya bukan hanya Aisyah yang dinikahi ketika berusia dibawah umur. Rasulullah bisa menikahi Aisyah, lalu apa sulitnya beliau menikahi wanita muda lain dengan alasan yang sama..??”. Alasan pedofilia menjadi tidak akurat dalam menghadapi fakta pernikahan Rasulullah tersebut. 

Lalu ada keberatan lain :”Tidak layak seorang tua berumur 60 tahun menikahi gadis belia belasan tahun. Orang tua yang sudah uzur dan loyo seharusnya memikirkan yang lain..”. Anehnya soal nikah beda usia ini terjadi sampai sekarang dan tidak pernah jadi masalah. Anda tahu Rod Stewart, si penyanyi idola..?? dia menikah untuk ketiga kalinya tahun 2007 dalam usia 62 tahun dengan seorang model yang lahir tahun 1971. Mick jagger masih loncat-loncatan di panggung musik pada usianya yang menjelang 70 tahun. Tidak usah jauh-jauh, Ahmad Albar si rocker gaek, masih pakai kaos buntung dan masih wara-wiri berteriak :”Rock di udara..!!!”. Bahkan dalam khazanah Kristen (sekalipun berapa usia persisnya masih diperdebatkan) Bunda Maria berusia belasan tahun ketika menikah dengan Jusuf si tukang kayu yang sudah tua, diantara mereka terbentang jarak usia yang panjang. Sekali lagi, aneh kalau mempermasalahkan soal beda usia antara nabi Muhammad dengan Aisyah. 

Soal berapa sebenarnya usia wanita yang layak untuk menikah juga menjadi pertanyaan. Secara biologis, wanita dikatakan layak untuk menikah ketika sudah mengalami menstruasi karena fisiknya sudah bisa melakukan pembuahan. Dunia kesehatan mengatakan wanita mengalami haid/menstruasi pertama kali secara normal pada usia 8 tahun. Secara sosial terjadi perbedaan tergantung waktu/jaman dan tempat. Jaman kakek-nenek kita dulu, wanita tamat SD sudah layak menikah, bahkan ketika umur 20 tahun masih belum juga punya suami, maka dikatakan orang-orang suda tidak lazim. Jaman sekarang usia yang pantas menikah menjelang 30 tahun. Pada abad-19 di Amerika, masyarakat menerima pernikahan wanita pada umur 10 tahun, pada tahun 1930 terdapat 12 negara bagian di AS yang membolehkan wanita berumur 12 tahun untuk menikah atas ijin orang-tua. Secara psikologis juga tidak bisa ditetapkan standardnya, wanita bisa saja secara matang menghadapi pernikahan dalam umur belasan, dilain pihak ada yang sudah tua bangka tetap saja tidak mampu menghadai perkawinan secara dewasa. 

Meluruskan Riwayat Pernikahan Rasulullah SAW-Aisyah r.a.



Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra. yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional. Dan efeknya, orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini sebagai alat tuduh terhadap Rasulullah dengan menganggapnya fedofilia. Mari kita buktikan. Secara keseluruhan data-data yang dipaparkan tulisan ini diambil dari hasil riset Dr.M. Syafii Antonio dalam bukunya, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager (2007).